Ketua DPRD dan Bupati Sepakat Terbitkan Peraturan


Post by :

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: user_name

Filename: limapuluhkota/v_beritadetail.php

Line Number: 263

Backtrace:

File: /var/www/clients/client42/web41/web/application/views/limapuluhkota/v_beritadetail.php
Line: 263
Function: _error_handler

File: /var/www/clients/client42/web41/web/application/controllers/Limapuluhkotaterkini.php
Line: 90
Function: view

File: /var/www/clients/client42/web41/web/index.php
Line: 315
Function: require_once

, 28 April 201510:35:16
2260 dibaca

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: link

Filename: limapuluhkota/v_beritadetail.php

Line Number: 279

Backtrace:

File: /var/www/clients/client42/web41/web/application/views/limapuluhkota/v_beritadetail.php
Line: 279
Function: _error_handler

File: /var/www/clients/client42/web41/web/application/controllers/Limapuluhkotaterkini.php
Line: 90
Function: view

File: /var/www/clients/client42/web41/web/index.php
Line: 315
Function: require_once

/23Runtuh.jpg" alt="File foto tidak ditemukan !!!" class="rounded" style="height: auto;">

“Kita tidak ingin rumah gadang terancam tinggal kenangan. Karenanya kita menghibau seluruh anak kemenakan di Kabupaten Lima Puluh Kota umumnya peduli dan kembali membangun rumah gadang,”

 

Runtuhnya rumah gadang Datuak Permato Ti Ameh Kampuang Tabek Suku Bodi Chaniago di Jorong Tanjuang Koliang Nagari Sungai Kamuyang dalam musibah angin puting beliung beberapa waktu lalu, cukup mendapatkan perhatian Ketua DPRD Safaruddin Dt. Bandaro Rajo. Menurutnya, rumah gadang itu perlu dibangun lagi di tengah semakin lunturnya budaya Minangkabau dewasa ini.

 â€œKita mendorong pemerintahan nagari dan pemerintahan kabupaten untuk mengajak anak kemenakan Pesukuan Bodi Chaniago Jorong Tanjuang Koliang membangun rumah gadang itu kembali,” ujar Safaruddin ketika meninjau rumah gadang Datuak Permato Ti Ameh yang diporak-porandakan angin kencang tersebut.

 Sebab, katanya, mendirikan soko dan pusoko hanya bisa dilaksanakan di rumah gadang. Ketika salah seorang yang memegang jabatan Ka Ampek Suku atau gelar Datuak meninggal dunia, sedangkan pesukuannya tidak memiliki rumah gadang, maka untuk mendirikan adat soko dan pusokonya harus menompang di rumah gadang lain.

Tak hanya sebagai tempat tinggal dan tempat acara adat. Rumah gadang juga menjadi tempat melaksanakan acara seremonial adat seperti kematian, kelahiran, perkawinan, mengadakan acara kebesaran adat, tempatbaiyo-iyo (bermusyawarah dan bermufakat) bagi anak kemenakan dan lainnya.

“Kita tidak ingin rumah gadang itu terancam tinggal kenangan. Karenanya kita menghibau seluruh anak kemenakan pesukuan ini dan di Kabupaten Lima Puluh Kota umumnya untuk peduli dan kembali membangun rumah gadang sesuai fungsinya,” ulang Safaruddin sembari mengingatkan, kalau rumah gadang habis, bagaimana mendirikan adat soko dan pusoko di daerah ini.

Selain mengharapkan perhatian serius masyarakat di kampung halaman, Safaruddin juga mengajak kepedulian para perantau dan semua pihak yang mengurus pelestarian budaya di daerah ini.

Khusus terhadap pemerintahan nagari, hendaknya bisa mengeluarkan kebijakan yang disokong oleh pemerintah kabupaten. Bahkan Pemkab dan DPRD juga diharapkan bisa memberikan penjelasan kepada masyarakat tentang pentingnya membangun kembali rumah gadang dalam upaya melestarikan budaya alam Minangkabau.

“Untuk saat ini barangkali ajakan melestarikan dan membangun rumah gadang itu cukup dengan Peraturan Bupati. DPRD akan mensuport dan memberikan motivasi pada pemerintah nagari agar rumah gadang yang telah runtuh dapat dibangun lagi,” paparnya.

Sambut Baik

Senada dengan Safaruddin, Bupati Lima Puluh Kota Alis Marajo juga mengatakan rumah gadang memang harus dilestarikan. Malah, Bupati menyambut baik dorongan Ketua DPRD itu untuk membangunan kembali rumah gadang di daerah ini.

“Rumah gadang memang merupakan  tempat memelihara soko jo pusoko. Kalau Ketua DPRD memberikan amanah agar pemerintah nagari dan pemerintah kabupaten membuat kebijakan untuk membangun kembali rumah gadang  di daerah ini, kita akan meresponnya dengan positif,” ungkap Bupati.

Bahkan kalau perlu, lanjut Bupati, Pemkab Lima Puluh Kota akan membuat Perbup tentang pembangunan  rumah gadang. Selain untuk pelestarian rumah gadang, Perbup tersebut sekaligus juga mendorong setiap pangulu mempunyai surau.

“Dua masalah ini perlu dirancang Perbupnya. Hal ini cukup berasalan karena daerah ini telah mempunyai Peraturan Daerah (Perda) yang perlu dijabarkan dengan Perbup tentang rumah gadang dan Perbup tentang surau,” ujar Bupati.

Seperti kata pepatah Minang, mambaliakan siriah ka gagang, yang bertanggungjawab terhadap rumah gadang adalah pemangku adat Ka Ampek suku dan Tuo Kampuang yang ditunjang oleh organisasi niniak mamak.

“Yang jelas kita sangat berterimakasih terhadap Ketua DPRD yang telah memberikan sinyal agar Pemkab membuat Perbup tentang pembanguna rumah gadang,” tutur Alis.

Bupati asal Nagari Ateh ini juga berharap, ke depan setiap pesukuan minimal memiliki satu rumah gadang dan surau. Lebih diharapkan lagi, rumah gadang itu hendaknya benar-benar lengkap dengan tunggak tuonya untuk managokan pangulu, ada tunggak tongah untuak urang sumondo dan tunggak ujuang untuk si olek.

“Jangan sampai batogak pangulu di ateh balai. Malewakan pangulu boleh saja di atas balai, tapi batogak pangulu mestinya didudukan di atas rumah godang,” ingat mantan Ketua LKAAM Lima Puluh Kota itu.

Namun lanjut Alis, Perbup yang dibuat nantinya perlu mendapatkan dukungan dari pemerintah nagari. Malah kita mempersilahkan kalau pemerintah nagari lebih duluan membuat peraturan nagari tentang pelestarian rumah ini.

“Kalau pemerintah nagari telah membuat peraturan nagari tentang pelestarian rumah gadang itu, kita tinggal mengukuhkan peraturan tersebut,” ujar Bupati. (hendri gunawan)

Sampaikan komentar & saran