BERTANAM JAHE DIMASA PANDEMI


Post by : Dinas Tanaman Pangan, 18 Oktober 202021:57:44
20604 dibaca

File foto tidak ditemukan !!!

Jahe (Zingiber officinale Rosc.) adalah tanaman herbal yang memiliki banyak manfaat dan bernilai ekonomi tinggi. Terutama untuk campuran bahan makanan dan juga minuman hangat yang memiliki kandungan gizi yang tinggi. Selain dipergunakan untuk bahan makanan dan minuman, jahe juga berfungsi sebagai bahan baku obat-obatan, jamu tradisional bahkan untuk kosmetik kecantikan bagi kaum hawa.  Melihat permintaan yang sangat tinggi dari dalam negeri khususnya di tengah wabah Virus Corona (Covid-19) saat ini ,maka usaha tanaman jahe ini sangat menjanjikan. sehingga membuat para petani bersemangat untuk membudidayakannya. Oleh karena itu pengembangan jahe baik skala kecil maupun skala besar harus didukung  dengan budidaya secara optimal maupun berkesinambungan.

Sebagai pengetahuan awal, umumnya jahe memiliki masa panen sekitar 8 sampai 12 bulan, tergantung dari keperluan jahe tersebut. Misalnya saja jika jahe dipergunakan untuk kebutuhan rumah tangga seperti bumbu masak, maka umur panen jahe di kisaran 8 bulan. Sementara untuk pembibitan bisa dipanen pada bulan ke 10 atau lebih dan untuk keperluan asinan jahe umumnya lebih cepat berada pada kisaran 3 sampai 4 bulan.

Dalam membudidayakan atau menanam tanaman jahe, terdapat beberapa langkah dan peralatan yang dibutuhkan agar tanaman jahe dapat tumbuh dengan maksimal.  Menanam jahe memiliki banyak kelebihan, yakni tanaman jahe dapat ditanam di lokasi dan media tanam yang tidak memiliki lahan luas, artinya bisa ditanam di pekarangan rumah. Perawatannya pun bisa dibilang tidaklah sulit serta tanaman ini banyak dibutuhkan oleh pasar sebagai salah satu bahan penting untuk dikonsumsi.

Sebagai tanaman yang memiliki rumpun berbatang semu, maka tanaman jahe memiliki famili yang sama seperti tanaman kunyit, kencur, temulawak dan lengkuas. Di Indonesia sendiri terdapat 3 jenis varietas jahe yang paling banyak dijumpai di pasaran, yakni jahe merah, jahe putih kecil, dan jahe putih besar. Ketiga jenis ini dibedakan dari perbedaan morfologi pada ukuran dan warna kulit rimpang.

Untuk itu simaklah penjelasan tentang cara menanam tanaman jahe berikut ini :

 

Tentukan Lokasi Tanam Tanaman Jahe

Hal pertama ketika hendak menanam tanaman jahe ialah kita harus mengetahui terlebih dahulu apa sajakah syarat-syarat yang harus dipenuhi agar tanaman jahe dapat tumbuh maksimal. Berikut ini adalah beberapa syaratnya :

  • Tanaman Jahe tumbuh dengan maksimal di ketinggian 0 hingga 1700 mdpl di daerah yang memiliki iklim tropis dan subtropis.
  • Untuk daerah Indonesia sendiri yang memiliki iklim tropis, biasanya tanaman jahe ditanam di ketinggian 200 hingga 600 mdpl
  • Tanaman jahe sebaiknya ditanam di lokasi yang memiliki curah hujan tinggi yaitu di kisaran angka 2500 hingga 4000 mm per tahun.
  • Tanaman jahe dapat tumbuh subur di lokasi yang memiliki kelembapan udara yang cukup tinggi yaitu 60 hingga 90 persen serta disarankan memiliki suhu optimum yang berkisar antara 20 hingga 25 derajat celcius.
  • Ketika tanaman jahe berusia 2,5 hingga 7 bulan atau lebih, tanaman ini memerlukan pancaran sinar matahari secara langsung dengan intensitas cahaya yang masuk sebesar 70 hingga 100 persen.
  • Disarankan di tempat yang terbuka namun diberi naungan agar memberikan pengaruh yang cukup baik terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman jahe.
  • Lokasi harus memiliki tanah yang subur, gembur dan banyak memiliki kandungan bahan-bahan organik, serta memiliki tekstur tanah yang baik seperti bertekstur lempung berpasir, tekstur tanah yang liat dan berpasir serta memiliki tekstur tanah laterik.
  • Jenis tanah yang paling baik untuk ditanam tanaman jahe adalah tanah andosol, latosol merah coklat dan pada lahan hutan yang baru dibuka.
  • Kalian juga perlu memperhatikan tingkat keasaman dari tanah di lokasi penanamannya, untuk tingkat keasaman tanah atau pH yang ideal berkisar di angka 6,8 hingga 7,4.
  • Buatlah terasering atau sengkedan ketika lokasi lahan yang kalian pilih berada di daerah pegunungan yang memiliki tingkat kemiringan lebih dari 3 persen.
  • Pembuatan sengkedan ini berguna sebagai upaya untuk mengurangi tingkat kecuraman di kemiringan yang ekstrim. Karena lokasi penanaman tanaman jahe berada di lokasi yang sering terkena hujan, sengkedan memiliki tujuan untuk menahan abrasi dan longsor terhadap tanah yang diakibatkan oleh air hujan yang deras serta dapat memperbesar peluang penyerapan air oleh tanah.

 

Macam Bibit Jahe

Saat ini jenis jahe yang banyak di budidayakan adalah jahe putih besar (jahe gajah), jahe putih kecil (jahe emprit) dan jahe merah.

Ciri-ciri jahe :

Jahe gajah memiliki rimpang/umbi yang besar, berwarna putih kekuning-kuningan dengan diameter 8 – 8,5 cm, aroma tajam dengan tinggi rimpang 6 – 11,3 cm dan panjang 15 – 32 cm. Daun dan batang berwarna hijau muda dengan kadar minyak atsiri 0,8 – 2,8 %.

Jahe emprit memiliki rimpang yang kecil berlapis-lapis dengan aroma yang tajam, berwarna putih kekuning-kuningan dengan diameter 3 – 4 cm, tinggi rimpang 6 – 11 cm dan panjang 6 – 32 cm. Warna batang dan daun hijau muda dengan kadar minyak atsiri sekitar 1,5 – 3,5 %.

Jahe merah memiliki rimpang kecil berlapis dengan aroma yang sangat tajam dan berwarna antara jingga muda sampai warna merah. Diameter 4 – 4,5 cm, tinggi rimpang 5 – 11 cm dan panjang sekitar 12 – 13 cm. Warna daun hijau muda dengan warna batang hijau kemerahan. Memiliki kadar atsiri 2,8 – 3,9 %.

 

Cara Pembibitan Jahe yang Baik

Demi menghasilkan produksi jahe yang maksimal dan berkualitas, maka diperlukan pemilihan bibit tanaman jahe yang berkualitas pula, bibit yang berkualitas adalah bibit yang memenuhi persyaratan mutu genetik, mutu fisiologik dan mutu fisik.

Yang dimaksud dengan mutu fisiologik ialah pemilihan persentase pertumbuhan tanaman yang tinggi, untuk mutu fisik disini yang dimaksud ialah proses pemilihan bibit tanaman jahe yang bebas hama dan penyakit.

Proses pembibitan tanaman jahe dilakukan secara vegetatif, artinya tanaman jahe ditanam dengan menumbuhkan tunas-tunas yang ada pada rimpang jahe, berikut syarat-syarat yang harus dipenuhi agar bibit dapat tumbuh menghasilkan tanaman jahe yang berkualitas, diantaranya:

  • Pertama-tama kalian pilih bibit yang akan ditanam sebaiknya berasal dari tanaman yang sehat dan terbebas dari segala macam penyakit dan hama.
  • Kemudian apabila bibit yang digunakan untuk penanaman berasal dari tanaman jahe, maka bibitnya harus berasal dari tanaman jahe yang ketika pada masa pemanenannya di panen pada usia 10 hingga 12 bulan.
  • Kondisi dari rumpun induk tanaman jahe harus memiliki pertumbuhan yang normal, kekar dan tidak terserang hama ataupun penyakit.
  • Selanjutnya ketika rimpang jahe hendak dijadikan bibit tanaman, maka haruslah memiliki kondisi yang baik dengan memiliki ciri-ciri rimpang yang mulus, tidak ada bagian bibit yang busuk, warna tidak pucat dan mengkilat, serta tidak terkena hama ataupun penyakit.
  • Kondisi fisik untuk mengetahui rimpang yang sudah tua bisa dilihat dari kandungan serat yang tinggi dan kasar, kulit licin serta keras dan tidak mudah terkelupas dengan tampilan kulit mengkilat.  

Kemudian setelah memilih bibit tanaman jahe terbaik yang akan kalian tanam, maka selanjutnya kalian persiapkan tempat untuk proses pembibitan sebelum nantinya dipindahkan ke lokasi tanamnya.  Untuk tempat proses pembibitan kalian bisa melakukannya dengan dua teknik cara yang biasa dilakukan oleh petani jahe, cara yang pertama adalah dengan teknik peti kayu kemudian cara yang kedua ialah dengan teknik bedengan atau gundukan-gundukan tanah.

 

1. Teknik Peti Kayu

 

Pertama-tama siapkan semacam peti atau tempat penampungan yang terbuat dari kayu. Kemudian setelah itu jemur terlebih dahulu rimpang tanaman jahe yang akan digunakan sebagai bibit, namun perlu diingat, proses penjemuran tidak direkomendasikan dilakukan penjemuran sampai kering. Kemudian setelah dijemur, lakukan penyimpanan dalam durasi 1 hingga 1,5 bulan. Setelah disimpan selama 1 sampai 1,5 bulan, lakukan pematahan terhadap rimpang tanaman jahe nya hingga terpotong tiap jahe menjadi 3 hingga 5 mata tunas. Setelah dipotong masukan ke dalam tempat lalu kemudian masukkan campuran larutan fungisida serta zat untuk melakukan pengatur pertumbuhan tanaman selama kurang lebih 1 menit, dan setelah itu potongan tadi dikeringkan kembali.

Terakhir, masukan potongan tadi ke dalam peti kayu yang telah dibuat. Lakukan penyemaian dengan cara meletakkan potongan bibit pada bagian dasar, kemudian pada lapisan atasnya letakkan abu gosok atau bisa juga menggunakan sekam padi, lakukan pelapisan tersebut secara bergantian hingga pada lapisan paling atasnya adalah abu gosok atau sekam padi.  Kemudian setelah itu tunggu 2 hingga 4 minggu, karena pada usia itu bibit jahe sudah tumbuh tunas dan siap dipindahkan untuk ditanam pada lokasi penanaman.

 

2. Teknik Bedengan atau Gundukan-Gundukan Tanah

 

Jika sebelumnya penyemaian bibit dilakukan pada peti kayu, kali ini bibit tanaman jahe dapat dilakukan dengan teknik bedengan. Pertama-tama yang harus disiapkan ialah buat rumah penyemaian sederhana dengan memiliki ukuran 10 × 8 meter untuk kapasitas penanaman bibit sebanyak 1 ton.   Kemudian pada rumah penyemaian buat semacam bedengan dari tumpukan jerami yang memiliki ketebalan sebesar 10 cm.

Nantinya rimpang tanaman jahe disusun pada bedengan jerami tersebut lalu ditutup jerami dan diatasnya diberi rimpang kembali demikian seterusnya hingga terdapat 4 susunan lapis rimpang dengan pada bagian atasnya berupa jerami.

Perawatan yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas bibit ialah kita bisa melakukan penyiraman yang dilakukan setiap hari dan sebaiknya sesekali melakukan penyemprotan dengan menggunakan cairan fungisida agar tanaman terhindar dari serangan hama dan penyakit.

Terakhir, setelah menunggu waktu hingga 2 minggu, perhatikan pada bagian rimpang tersebut biasanya sudah muncul tunas. Kemudian, kita perlu menyeleksi bibit mana yang memiliki kualitas yang baik, jangan sampai ada bibit yang memiliki kualitas buruk ikut tertanam.

Kita bisa melakukan seleksi pemilihan bibit dengan cara mematahkan bibit hingga setiap potongan pada bibit terbentuk 3 hingga 5 mata tunas dan memiliki berat dikisaran 40 hingga 60 gram. Setelah terseleksi, masukan ke dalam suatu tempat kemudian masukkan campuran larutan fungisida selama 8 jam lamanya, kemudian bibit kalian jemur dengan kisaran waktu 2 hingga 4 jam sebelum siap ditanam di lokasi penanaman.

 

Persiapan Lahan

Lakukan pengolahan lahan sebelum bibit ditanam untuk memperoleh tanah yang gembur, subur, berhumus, memiliki drainase dan aerasi udara yang baik dan menghilangkan gulma penggangu tanaman.

Tujuan dari penggemburan tanah agar rimpang jahe dapat tumbuh dengan leluasa. Tanah yang berliat jika tidak dilakukan pengolahan dengan baik maka akan menyebabkan rimpang jahe tertekan dan tidak akan tumbuh dengan subur, sementara tanah yang berkerikil akan menyebabkan rimpang tergores sehingga hasil tanaman yang baik tidak akan diperoleh.

Drainase yang baik juga sangat dibutuhkan tanaman jahe untuk mencegah serangan penyakit seperti layu karena tergenag air. Sementara aerase udara yang baik akan memberikan ruang gerak akar untuk menyerap unsur hara dan air serta dapat mengurangi pembentukan senyawa anorganik yang bersifat racun dalam tanah.

 

Cara pengolahan tanah

 

Ketika telah siap menentukan lokasi tanam dan telah menyiapkan bibit yang berkualitas, maka langkah selanjutnya adalah melakukan proses pengolahan media tanam di lokasi penanaman.  Persiapan lahan tanam setidaknya memerlukan waktu 1 bulan lamanya sebelum bibit tanaman jahe ditanam. Pertama-tama bersihkan lahan dari gulma rumput dan sisa-sisa bekas tanaman sebelumnya.

Selanjutnya setelah dibersihkan, bajak lahan tersebut dengan cara mencangkulnya dengan kedalaman sekitar 25 hingga 35 cm. Lahan yang telah dicangkul tadi diamkan dan jemur terlebih dahulu selama kurang lebih 1 minggu sebelum dibajak dan dicangkul untuk kedua kalinya untuk proses penggemburan tanah.

Penggemburan tanah berguna untuk membuang racun yang mengendap di dalam tanah dan membunuh kuman serta hama.  Kemudian bentuk bedengan apabila lokasi tempat penanaman memiliki sirkulasi drainase air tanah yang buruk, karena bedengan berfungsi sebagai pembentuk aliran air agar air tidak tergenang di tempat yang sama, karena air yang tergenang hanya akan membuat tanaman jahe menjadi rusak.

Kemudian buat bedengan dengan ukuran tinggi berkisar antara 20 hingga 30 cm dengan ukuran lebar 80 hingga 100 cm, untuk panjang dari bedengan sendiri dikondisikan dengan penyesuaian luas lahan yang digunakan.

Ketika kondisi tanah pada lokasi penanaman memiliki tingkat keasaman yang rendah, maka kalian perlu melakukan proses pengapuran, karena ketika tingkat pH rendah maka sebagian unsur hara terutama jenis fosfor dan kalsium yang terkandung menjadi tidak tersedia atau sulit terserap.

Pengapuran berfungsi sebagai penambah unsur kalium yang sangan diperlukan bagi tanaman untuk mengeraskan bagian tanaman yang berkayu, merangsang pembentukan bulu-bulu akar, mempertebal dinding sel buah serta merangsang pembentukan biji.

Ketika kondisi tanah memiliki tingkat pH dibawah angka 4 yang artinya tanah tersebut kondisinya sangat asam, maka membutuhkan dolomit sebanyak 10 ton per hektar.

 

Penanaman Jahe

 

Langkah penting yang dilakukan selanjutnya ialah lakukan proses penanaman tanaman jahe, bagaimana melakukannya? Pertama-tama dibuat lubang-lubang kecil sebagai media tanam tanaman jahe, lubang-lubang tersebut disarankan memiliki ukuran kedalaman 3 hingga 7,5 cm.

Selanjutnya setelah bedengan telah siap dilubangi, maka lakukan proses penanaman dengan cara melekatkan bibit rimpang jahe yang telah dipilih secara direbahkan dan mata tunas dihadapkan keatas lalu dimasukkan ke dalam lubang-lubang yang telah disiapkan.

Setelah itu bibit ditutup dengan menggunakan tanah dengan ketebalan kurang lebih 5 cm. Penanaman sebaiknya dilakukan pada awal musim penghujan tiba. Karena bibit tanaman jahe membutuhkan air yang cukup banyak bagi awal-awal masa pertumbuhannya.

Pemupukan

Untuk meningkatkan unsur hara, memperbaiki tekstur dan aerasi tanah dalam meningkatkan hasill rampang/umbi maka perlu dilakukan pemupukan. Seperti halnya mahluk hidup yang lain, tanaman jahe juga perlu ‘makan’. Makanan jahe adalah pupuk. Agar jahe bisa tumbuh ‘gemuk’ dan produksi rimpangnya juga buanyak, jahe perlu diberi ‘makanfan’ yang penuh gizi, yang cukup, dan seimbang. ‘Makanan’ jahe paling tidak harus mengandung nutrisi makro dan mikro, antara lain: nitrogen (N), fosfat (P), kalium (K), Magnesium (Mg), Sulfur (S), seng (Zn), Boron (B), tembaga (Cu), besi (Fe), dll.

Ada banyak panduan memberi ‘makan’ tanaman jahe alias pemupukan ke tanaman jahe. Berikut salah satu rekomendasi pemupukan dari Balitro Bogor :

A. Budidaya jahe organic :

  • pupuk kandang (sebagai pupuk dasar) 60 – 80 ton per ha

B. Organik dan Kimia:

  • pupuk kandang (sebagai pupuk dasar) 15-20 ton per ha
  • pemupukan pertama: 20 gr urea per tanaman, 10 gr TSP per tanaman, 10 gr ZA per tanaman, dan 112 kg K2O per ha pada usia 4 bulan.

 

Perawatan Tanaman Jahe

Perawatan tanaman jahe bisa dibilang cukup mudah dan tidaklah sulit, diantaranya yaitu:

  1. Lakukan proses penyulaman pada tanaman jahe, penyulaman dilakukan segera setelah kalian melihat adanya bibit jahe yang tidak tumbuh dengan baik atau bibit jahe yang mati.
  2. Kemudian lakukan proses penyiangan, proses ini berguna untuk membersihkan areal pertanaman dari rumput liar atau tanaman gulma pengganggu lainnya. Hal ini berguna agar tanaman jahe dapat tumbuh maksimal.
  3. Setelah itu kalian lakukan monitoring, hal ini berguna untuk tanaman jahe agar terbebas dari serangan hama ataupun penyakit, karena dalam monitoring kalian harus melakukan pengamatan secara rutin untuk mengetahui bagaimana perkembangan pertumbuhan tanaman jahe.

 

Panen Jahe

Langkah terakhir ketika menanam tanaman jahe ialah lakukan proses penanaman tanaman jahe. Ciri tanaman jahe ketika sudah berada pada usia siap panen ialah sesuai dengan tujuan penggunaannya yaitu untuk keperluan bumbu dapur umur panen 8 bulan, untuk bibit umur 10 – 12 bulan, untuk asinan jahe umur 3 – 4 bulan.

Kemudian ciri berikutnya ialah warna daun yang berubah dari hijau menjadi kuning dan semua batangnya telah mengering. Untuk cara panen yang baik dan benar, pertama-tama yang kalian lakukan ialah tanah lokasi penanaman kalian bongkar dengan sangat hati-hati dengan menggunakan garpu atau cangkul, jangan sampai mengenai rimpang jahenya.

Setelah dipanen, selanjutnya diangkut ke tempat pencucian untuk disemprot air mengalir. Rimpang tidak boleh digosok karena bisa mengakibatkan rimpang menjadi lecet dan menurunkan nilainya, kemudian selanjutnya jemur diatas papan atau daun pisang selama kira-kira 1 minggu. Tempat penjemuran harus terbuka, tidak lembab dan disebar tidak ditumpuk.

Disarankan untuk memanen di awal musim kemarau, karena apabila di panen pada musim penghujan hanya akan merusak kualitas rimpang jahe itu sendiri.  

 

Kualitas rimpang berdasarkan grade

  1. Grade I : Berat 250 gram/rimpang, kulit tidak terkelupas, tidak mengandung benda asing dan kapang (jamur).
  2. Grade II : Berat 150 – 249 gram/rimpang, kulit tidak terkelupas, tidak mengandung benda asing dan kapang.
  3. Grade III : Berat sesuai analisa, kulit terkelupas maksimal 10 % dari setiap rimpang, benda asing maksimal 3 % dan kapang tidak lebih dari 10 %.

 

Menanam tanaman jahe tidaklah sulit bukan? asalkan memiliki tekad yang kuat serta komitmen yang tinggi, jangan setengah-setengah, karena apabila tanaman jahe ditanam secara asal-asalan maka hasilnya menjadi tidak maksimal dan menjadi tidak ternilai di pasaran.  Selamat mencoba menanam dan membudidayakan tanaman jahe, semoga hasilnya memuaskan dan tetap semangat!.(Teti Maiyuri, SST)

 

Sampaikan komentar & saran