Narkoba dan Pengisap Lem Makin Marak


Post by : , 28 April 201506:41:01
2159 dibaca

File foto tidak ditemukan !!!

“Tak hanya narkoba, saya juga mendapatkan laporan yang menyebutkan anak-anak kita banyak yang kecanduan mengisap lem. Parahnya, anak-anak itu ada yang meninggal bahkan menjadi gila akibat mengisap lem,”

Kabupaten Lima Puluh Kota bukan lagi sebatas tempat lewat, melainkan sudah menjadi market narkoba. Ini harus dipandang sebagai suatu ancaman besar bagi generasi muda di daerah setempat.

Demikian Wakil Bupati Lima Puluh Kota Asyirwan Yunus dalam paparannya pada acara penyuluhan narkoba bagi para kepala sekolah dari tiga kecamatan di SDN 04 Harau, kemarin.

“Ancaman narkoba di kalangan generasi muda di Kabupaten Lima Puluh Kota semakin mengkhawatirkan. Bahkan hampir setiap minggu daerah ini diwarnai berita penangkapan pemakai maupun penjual barang haram tersebut,” ungkap Asyirwan.

Selain menggunakan narkoba, siswa sekolah di daerah ini juga tidak sedikit yang menjadi pengisap lem. Lebih mirisnya lagi, hampir di setiap kecamatan ada pecandu lem. Padahal, mengisap lem itu bisa merusak sistem syaraf pecandunya.

“Tak hanya narkoba, saya juga mendapatkan laporan yang menyebutkan anak-anak kita banyak yang kecanduan mengisap lem. Parahnya, anak-anak itu ada yang meninggal bahkan menjadi gila akibat mengisap lem,” ujar Ketua BNK Kabupaten Lima Puluh Kota itu.

Maraknya penggunaan narkoba dikalangan anak muda termasuk anak sekolah itu, lanjut Asyirwan, merupakan ancaman yang harus diperangi secara bersama oleh semua pihak termasuk guru. Selain mengajar, guru hendaknya juga senantiasa memberikan pengertian dan pemahaman bahaya penggunaan narkoba dan mengisap lem tersebut.

“Menyimak maraknya peredaran narkoba, saya berharap peran aktif para guru untuk memberikan pemahaman tentang bahaya narkoba terhadap para siswanya,” tegas wakil bupati yang juga mantan guru dan dosen itu.

Sebab, peran aktif guru akan sangat mendukung dalam menciptakan lingkungan sekolah bebas Narkoba. Perlu disadari, narkoba akan menghancurkan segala sendi kehidupan.

“Ancaman narkotika semakin nyata. Ini tentu tidak bisa kita biarkan membuat generasi muda kita menjadi korbannya,” kata Asyirwan

Selain mengawasi dan membina anak didik, pihak sekolah hendaknya juga senantiasa mengundang para wali murid untuk membicarakan ancaman narkoba ini, sekaligus sama-sama bersinergi mengawasi dan memberikan pendidikan moral terhadap anak.

“Masalah narkoba saat ini menuntut penanganan lebih serius. Mari kita cegah dan perangi barang haram itu bersama-sama,” ajak Asyirwan.

Mantan anggota DPRD Sumatera Utara itu mengaku tidak ingin dituding masyarakat membiarkan ancaman ini. Terhadap hal itu, semua pihak diharapkan ikut proaktif mensosialisasikan bahaya narkoba kepada masyarakat terutama kalangan muda.

Caranya, mungkin saja memperbanyak pertemuan dengan pihak wali murid. Sebab, anak tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada guru dan juga tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada orang tua atau pemerintah daerah.

“Artinya harus ada sinergitas antara ketiga komponen ini dalam rangka membina dan memperbaiki moral anak,” tuturnya.

 Dalam kesempatan itu Wabup juga meminta dukungan para guru untuk mensukseskan kerjasama dengan media massa untuk menggelar lomba karya tulis atau menulis surat kepada wakil bupati. Sebab, lomba untuk anak sekolah dasar ini diyakini akan memberikan manfaat yang besar.

Lomba menulis surat ini, sebut Asyirwan, diharapkan bisa menjadi salahsatu upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba di sekolah. Sebab, berbagai aktivitas yang menyenangkan dan berorientasi pada siswa tersebut akan mendorong tingkah laku yang positif dan meminimalisasi dorongan penyalahgunaan narkoba.

“Tidak hanya buat menghindari anak dari kegiatan negatif, namun juga akan menjadi media belajar menulis bagaimana ia si anak menuangkan pikirannya dalam bentuk tulisan. Tak kalah pentingnya, dari tulisan anak ini akan diperoleh informasi yang sebenarnya,” kata Asyirwan.

Sebab, anak-anak belum terkontaminasi, masih jujur dan terbuka untuk menceritakan fakta yang sebenarnya. Informasi itu mungkin saja tentang keadaan dan suasana sekolah, atau mungkin juga pemahaman anak tentang dunia pendidikan.

“Untuk memicu atau merangsang semangat para siswa tersebut, kita akan menyediakan hadiah berupa tabanas,” tutur putera Pangkalan itu.

Pelayanan Masyarakat

Menyinggung masalah pelayanan terhadap masyarakat, lebih jauh Wabup menjelaskan menginginkan semua pelayanan berada di kantor camat. Sehingga masyarakat tidak perlu jauh-jauh lagi berurusan ke kantor kabupaten.

“Untuk mengurus KTP misalnya, masyarakat hendaknya tidak lagi berurusan ke kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Lima Puluh Kota yang ada di Kota Payakumbuh. Sebaliknya, cukup di kantor camat,” Terang Asyirwan.

Berurusan ke kantor Disdukcapil di Kota Payakumbuh, lanjutnya, sangat menyulitkan dan menuntut biaya besar, terutama bagi warga yang tinggal di nagari di kecamatan jauh seperti Gelugur Kapur IX. Untuk mengurus KTP saja, warga Gelugur harus menginap di Payakumbuh.

“Selama ini tak jarang warga Kapur IX yang mengurus KTP ke Disdukcapil menompang nginap di rumah dinas wakil bupati di Tanjung Pati. Sebab, urusannya tidak bisa selesai dalam satu hari,” tutur Wabup.

Biasanya, kata Asyirwan, karena jarak yang jauh, biasanya warga Kapur IX yang berurusan ke Disdukcapil baru akan tiba di kantor itu siang hari. Karena mengantri diurutan bekalang, kadang gilirannya tidak bisa selesai hari itu atau  baru siap ketika sore. Buntutnya, warga memilih menompang di rumah dinas wakil bupati.

“Berdasarkan pengalaman dan apa yang didengar dari masyarakat, seharusnya pusat pelayanan itu berada di kecamatan seperti program Paten yang telah di lounching di Kapur IX beberapa waktu lalu,” papar Asyirwan.

Selain itu ia juga menyebut perlu lebih fokus dan serius lagi meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sebab, hingga kini di daerah ini masih banyak masyarakat  miskin dan calon masyarakat miskin. Bila tidak segera di tangani dengan baik, calon masyarakat miskin itu bisa jatuh miskin.

“Untuk meningkatkan nilai tambah dan membuka lapangan pekerjaan, kenapa kita tidak berpikir untuk membangun industri pengolahan Jeruk Gunuang Omeh (Jesigo)  yang selama ini hanya dijual dalam bentuk buah segar,” ujar Wabup.

Begitu pula dengan produk unggulan lain seperti gambir, mengapa tidak kita bangun industri pengolahan turunan seperti katecin sebagaimana kebutuhan industri.

Sementara untuk menggenjot Pendapatan Asli Daerah (PAD), Asyirwan menyebut Kabupaten Lima Puluh Kota perlu lebih serius menggarap pariwisatanya, Jangan lagi  daerah ini hanya menjadi penonton di daerah sendiri. Ratusan bahkan ribuan wisatawan menikmati keindahan alam dan pemandangan Lembah Harau dan Kelok 9, tapi pelancong itu nginap di Kota Bukittinggi. Artinya, daerah ini hanya sekedar menjadi tempat lewat.

“Agar memberikan kontribusi bagi kas daerah, objek wisata di daerah ini harus dibangun dan dikelola dengan baik. Selain itu lengkapi fasilitas seperti penginapan dan lainnya,” simpulnya. (hendri gunawan)

Sampaikan komentar & saran