Halaban Miliki Berbagai Potensi


Post by :

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: user_name

Filename: limapuluhkota/v_beritadetail.php

Line Number: 263

Backtrace:

File: /var/www/clients/client42/web41/web/application/views/limapuluhkota/v_beritadetail.php
Line: 263
Function: _error_handler

File: /var/www/clients/client42/web41/web/application/controllers/Limapuluhkotaterkini.php
Line: 90
Function: view

File: /var/www/clients/client42/web41/web/index.php
Line: 315
Function: require_once

, 29 Januari 201602:44:09
3114 dibaca

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: link

Filename: limapuluhkota/v_beritadetail.php

Line Number: 279

Backtrace:

File: /var/www/clients/client42/web41/web/application/views/limapuluhkota/v_beritadetail.php
Line: 279
Function: _error_handler

File: /var/www/clients/client42/web41/web/application/controllers/Limapuluhkotaterkini.php
Line: 90
Function: view

File: /var/www/clients/client42/web41/web/index.php
Line: 315
Function: require_once

/2901161103_halaban-miliki-berbagai-potensi.jpg" alt="File foto tidak ditemukan !!!" class="rounded" style="height: auto;">

SEJUK. Setidaknya begitu kesan pertama yang suguhkan Nagari Halaban Kecamatan Lareh Sago Halaban. Kendati jarum jam sudah menunjukan angka 09.00 Wib, namun nagari yang terletak di kawasan Gunuang Sago ini masih diselimuti kabut dan terasa dingin. Tak heran, nagari yang berada di kawasan perbatasan Kabupaten Lima Puluh Kota dengan Kabupaten Tanah Datar itu terletak pada ketinggian 400 hingga 1.000 meter dari permukaan laut. Nagari penghasil Songket ini terletak sekitar 28 km dari ibu kota kabupaten. Secara keseluruhan nagari ini diperkirakan memiliki luas 63 Km2. Sebelah utara nagari ini berbatasan dengan Nagari Ampalu dan Kabupaten Sijunjung, arah barat berbatasan dengan Gunuang Sago, bagian selatan dengan Kabupaten Tanah Datar dan sebelah utara berbatasan dengan Nagari Tanjung Gadang. Data terakhir menunjukan, nagari ini dihuni oleh 4.956 jiwa yang terhimpun dalam 1.289 kepala keluarga. Umumnya, atau sekitar 25,7% penduduknya berprofesi sebagai petani atau peternak, sekira 9,6% pengrajin, 2,3% di bidang pertukangan, 1% pedagang, masing-masingnya 0,5% PNS dan pensiunan serta sekira 0,2% bidan. Sisanya pelajar dan mahasiswa serta pengangguran. Nagari ini terdiri dari delapan jorong yang masing-masingnya Jorong Atas Laban, Aiea Baba, Kabun, Lompek, Alang Laweh, Padang Tangah, Lambuak dan Kapalo Koto. Bicara potensi, Halaban mempunyai areal persawahan sekitar 616 hektar dan lahan tanaman palawija sekira 306 hektar. Sedangkan luas lahan perkebunan berkisar 600 hektar dengan rinsian masing-masingnya 147 hektar berupa kebun gambir, 79 hektar kakao, 355 hektar karet dan sekitar 19 hektar kebun kelapa. Berikutnya pada sektor peternakan, di nagari ini terdapat sedikitnya 815 ekor ternak sapi potong dan sekitar 50 ribu ekor ayam potong dengan populasi terbesar di Jorong Lompek. Selain itu di Halaban juga terdapat sejumlah kolam ikan. Selain itu di nagari ini juga mempunyai lahan pertambangan, seperti tambang calcium yang hingga kini baru tergarap sekitar 10 hektar dari sekira 100 hektar potensi yang ada. “80 hektar lainnya potensi calcium itu masih menunggu investor,” ungkap Pjs Wali Nagari Halaban Asdi kepada Sinamar di kantor wali nagari setempat, kemarin. Begitu pula di bidang sosial budaya, nagari ini juga memiliki bermacam kesenian tradisional seperti talempong, randai, pencak silat, Saluang dan lainnya. Lebih menariknya lagi, Halaban ikut mempunyai andil dalam sejarah perjuangan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). Khusus di bidang kerajinan, hampir setiap kaum perempuannya menggeluti tenun songket secara tradisional. Tak hanya ibu rumah tangga, umumnya remaja puteri di nagari ini juga mengisi waktu luangnya sepulang sekolah dengan bertenun songket. Sementara dari aspek pendidik, di Halaban terdapat satu Taman Kanak-kanak, 5 SD dan masing-masingnya SMP dan MTsN. Berikutnya sarana ibadah seperti masjid dan mushalla sebanyak 32 unit. Serta, satu Puskesmas dan 11 unit Polindes dan Posyandu. Menyoal permasalahan yang dihadapi,Pjs Wali Nagari Asdi mengatakan salahsatunya di sektor pertanian. Masalah paling mengemuka di sektor pertanian ini adalah persoalan ketersediaan pupuk dan irigasi. Lantaran sulit mendapatkan pupuk serta belum bagusnya pengairan areal pertanian, membuat produksi optimal yang diharapkan para petani sulit terwujud. Begitu juga di sektor perkebunan. Para pekebun karet masih saja mengeluhkan rendahnya produksi, serta murahnya harga jual produksi. Sedangkan pada komoditi gambir, petani juga terkendala permodalan untuk perluasan areal. Khusus terkait dengan kerajinan songket, para perajin hingga kini masih tergantung penuh kepada pihak luar seperti halnya untuk pengadaan bahan baku dan pemasaran. Ini tentu butuh peran dinas terkait Pemerintah Daerah Kabupaten Lima Puluh Kota. Menyoal rencana pembangunan jangka menengah, Halaban memiliki visi terciptanya masyarakat yang makmur serta berakhlak mulia. Untuk mewujudkan visi itu ditetapkan empat misi yang antara lain meningkatkan sumberdaya manusia, menggali potensi alam, membangun sarana dan prasarana ekonomi dan memberdayakan semua lini untuk membangun nagari. Menurut Asdi, saat ini Pemerintah Nagari Halaban tengah membangun kantor baru berlantai dua dengan arsitektur bagonjong. Hingga kini pembangunan sudah teralisasi dengan nilai sekitar Rp225 juta dengan pembiayaan dari dana alokasi khusus nagari tahun 2014 sebesar Rp73 juta, serta dari swadaya masyarakat dan sumbangan dari perusahaan yang ada di Halaban. Sejarah : Bicara sejarah asal mula nagari ini, dari cerita turun temurun, nenek moyang anak Nagari Halaban berasal dari Nagari Limo Kaum daerah Pariangan Padang Panjang sekitar abad ke 7. Mereka datang dengan sejumlah rombongan. Salahsatunya berjalan dari Limo Kaum menujut Koto Lalang yang terletak di pinggir Nagari Bonai Kecamatan Lintau Buo. Tak lama di Koto Lalang, mereka melanjutkan perjalanan ke arah Kalo-Kalo terus ke Tabek Panjang Kenagarian Lubuak Jantan berikut melintasi Batang Sinamar menuju Tanjung Lansek dan Pamasian. Setelah beberapa lama menetap di Pamasian, rombongan melanjutkan perjalanan menelusuri Batang Sinamar dan sebagian menuju Gunung Sago yang kini disebut Taratak Tinggi. Lantaran Taratak Tinggi tidak memungkinkan untuk membuat areal persawahan, berikutnya rombongan tersebut kembali meneruskan perjalanan ke arah Gunung Sago. Selanjutnya, rombongan terpencar dan ada yang sampai di pinggiran Batang Sinamar di Lubuak Lompek, ada pulo yang terus ke Atas Koto. Selang beberapa lama, mereka kembali berkumpul dan membuat perkampungan di Koto Lambuak Tuo serta membuat dusun-dusun yang antara lain bernama Dusun Lareh Nan Panjang, Lompek dan Kabun. Konon nama Halaban berasal dari kata halal dan laban. Halal artinya baik atau boleh, sedangkan laban artinya susu. Halaban berarti susu yang baik atau halal. Kata tersebut bermula dari pernyataan utusan Syehk Bantan yang bernama Pakiah Badangkiang yang mendapati Nenek Juaro sedang memerah susu sapi dan mengatakan halal laban atau susu yang baik atau halal. Di nagari ini terdapat 40 orang penghulu yang terdiri dari 11 orang penghulu Pesukuan Melayu, 11 orang dari Pesukuan Piliang, 10 orang dari Pesukuan Bodi dan 8 orang dari Pesukuan Mandailing. (hendri gunawan)

Sampaikan komentar & saran